Saat tim penyelamat menemukan dia, dia telah meninggal, tertindih oleh bangunan yang hancur. Melalui lubang di antara timbunan bata, tim penyelamat melihat dia dalam posisi berlutut, tubuh bagian atas terlipat ke depan, dengan kedua lengan menyangga tubuhnya, seperti posisi orang berdoa dalam upacara2 kuno. Tim penyelamat memanggilnya melalui bata2 dan debu2 bangunan, tidak ada jawaban, maka mereka bergerak meninggalkan tempat itu.
Namun tiba2 ketua tim penyelamat menyadari sesuatu, dan bergegas kembali ke tempat itu, "kembali, kembali" serunya, dia bergerak mendekati wanita itu, berusaha mencapainya melalui timbunan bata yang hancur, setelah berulang kali mencoba, dia berhasil mencapai wanita itu dan berteriak "ada seseorang, ada seorang anak... dia hidup".
Setelah menyingkirkan bata-bata, mereka menemukan seorang bayi berusia 3 - 4 bulan, tertidur tenang, dibungkus selimut merah dengan bunga2 kuning, di bawah dada wanita itu, terlindungi oleh lengan dan tangannya.
Seorang dokter datang untuk memeriksa bayi itu, saat membuka selimut itu, sebuah handphone terjatuh, di layar hp itu tertulis sebuah pesan "anakkku tercinta, bila kamu dapat bertahan hidup, ingatlah.... aku sangat mencintaimu" .
Dokter itu yang telah melihat berbagai kejadian mengerikan dalam beberapa hari terakhir ini, menangis.. Handphone itu diedarkan kepada para tim penyelamat lainnya, diikuti dengan aliran air mata
Kisah Nyata Seorang Ibu
Sunday, 20 July 2008
Posted by $e$e at 05:00 0 comments
ibu.....
ibu…
Ini adalah tulisan yang sangat indah.
Bacalah dengan lambat, cernalah setiap kata dan nikmati lah
Jangan tergesa. Ini adalah harta karun
Bagi yang beruntung masih mempunyai ibu, ini indah
Bagi yang sudah tidak punya, ini lebih indah lagi
Bagi para ibu, kamu akan mencintainya
Sang ibu muda, melangkahkan kakinya di jalan kehidupan.
'Apakah jalannya jauh?' tanyanya.
Pemandunya menjawab: 'Ya, dan jalannya berat.
Kamu akan jadi tua sebelum mencapai akhir perjalanan ini...
Tapi akhirnya lebih bagus dari pada awalnya.'
Tetapi ibu muda itu sedang bahagia. Ia tidak percaya bahwa akan ada yang lebih baik
Dari pada tahun-tahun ini.
Karena itu dia main dengan anak-anaknya, mengumpulkan bunga-bunga untuk mereka
Sepanjang jalan dan memandikan mereka di aliran sungai yang jernih.
Mata hari bersinar atas mereka. Dan ibu muda itu berseru:
'Tak ada yang bisa lebih indah daripada ini.'
Lalu malam tiba bersama badai.
Jalannya gelap, anak-anak gemetar ketakutan dan ketakutan.
Ibu itu memeluk mereka dan menyelimuti mereka dengan mantolnya.
Anak-anak itu berkata: 'Ibu, kami tidak takut, karena ibu ada dekat..
Tak ada yang dapat menyakiti kami.'
Dan fajar menjelang. Ada bukit menjulang di depan mereka. Anak-anak memanjat dan menjadi lelah. Ibunya juga lelah. Tetapi ia terus berkata kepada anak-anaknya:
'Sabar sedikit lagi, kita hampir sampai.' Demikianlah anak-anak itu memanjat terus.
Saat sampai di puncak, mereka berkata: 'Ibu, kami tak mungkin melakukannya tanpa ibu.'
Dan sang ibu, saat ia berbaring malam hari dan menatap bintang-bintang, berkata:
'Hari ini lebih baik dari pada yang lalu. Karena anak-anakku sudah belajar daya tahan Menghadapi beban hidup. Kemarin malam aku memberi mereka keberanian. Hari ini saya Memberi mereka kekuatan.'
Keesokan harinya, ada awan aneh yang menggelapkan bumi.
Awan perang, kebencian dan kejahatan.
Anak-anak itu meraba-raba dan tersandung-sandung dalam gelap.
Ibunya berkata: 'Lihat keatas. Arahkan matamu kepada sinar.'
Anak-anak menengadah dan melihat diatas awan-awan ada kemuliaan abadi
Yang menuntun mereka melalui kegelapan.
Dan malam harinya ibu itu berkata: 'Ini hari yang terbaik.
Karena saya sudah memperlihatkan Allah kepada anak-anakku.
Hari berganti minggu, bulan, dan tahun.
Ibu itu menjadi tua, dia kecil dan bungkuk.
Tetapi anak-anaknya tinggi dan kuat dan berjalan dengan gagah berani.
Saat jalannya sulit, mereka membopongnya; karena ia seringan bulu.
Akhirnya mereka sampai ke sebuah bukit. Dan di kejauhan mereka melihat
Sebuah jalan yang bersinar dan pintu gerbang emas terbuka lebar.
Ibu berkata: 'Saya sudah sampai pada akhir perjalananku.
Dan sekarang saya tahu, akhir ini lebih baik dari pada awalnya.
Karena anak-anakku dapat berjalan sendiri dan
anak-anak mereka ada di belakang mereka.'
Dan anak-anaknya menjawab: "Ibu selalu akan berjalan bersama kami...
Meski ibu sudah pergi melewati pintu gerbang itu.'
Mereka berdiri, melihat ibu mereka berjalan sendiri...
dan pintu gerbang itu menutup sesudah ia lewat.
Dan mereka berkata: "Kita tak dapat melihat ibu lagi.
Tetapi dia masih bersama kita.
Ibu seperti ibu kita, lebih dari sekedar kenangan.
Ia senantiasa hadir dan hidup.
Ibumu selalu bersamamu….
Ia adalah bisikan daun saat kau berjalan di jalan
Ia adalah bau pengharum di kaus kakimu yang baru dicuci
Dialah tangan sejuk di keningmu saat engkau sakit.
Ibumu hidup dalam tawa candamu.
Ia terkristal dalam tiap tetes air mata.
Dia lah tempat engkau datang, dia rumah pertamamu.
Dia adalah peta yang kau ikuti pada tiap langkahmu/
Ia adalah cinta pertama dan patah hati pertamamu.
Tak ada di dunia yang dapat memisahkan kalian.
Tidak waktu, ruang, bahkan tidak juga kematian!
Teruskan pada semua ibu dan anak-anak yang kau kenal.
Semoga kita tidak pernah mengandaikan begitu saja ibu kita…
Teruskan juga pada para laki-laki….
Karena mereka juga punya ibu.
Posted by $e$e at 05:00 0 comments
Apa yang kita sombongkan ??
Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia
melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember
dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras.
Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, ?Apa yang sedang Anda
lakukan??
Sang Guru menjawab, ?Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta
nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka.
Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya
merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan.
Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya.?
Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang
benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari.
Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa
lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa
lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang
lain.
Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering
menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus
dibandingkan dengan orang lain.
Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita
mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong
karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi
karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.
Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang
lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan
kepercayaan diri (self-confidence) . Akan tetapi, begitu kedua hal ini
berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan
kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.
Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan
kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam
keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan
waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita
butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita
memerlukan lebih banyak lagi.
Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego
inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka)
dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.
Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran
sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua
perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari
bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk
spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik
hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan
(ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong.
Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam
kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan,
label, dan segala ?tampak luar? lainnya. Yang kini kita lihat adalah
?tampak dalam?. Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari
berbagai kesombongan atau ilusi ego.
Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita
lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri.
Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.
Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan
kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita
dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali
kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun
kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain,
kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau
begitu, apa yang kita sombongkan?
------------ --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------
Posted by $e$e at 04:58 0 comments
10 Sikap Hidup Agar Tetap Bahagia.
Saturday, 12 July 2008
1° Janganlah kuatir
Kekuatiran adalah penyebab aktivitas dan pikiran kita tidak produktif..
2° Jangan membiarkan ketakutan-ketakutan tak beralasan menguasai
hidupmu... Kebanyakan sesuatu yang kita takutkan tak pernah terjadi !!!
3° Jangan menyimpan dendam... Hal inilah yg paling besar dan paling
menyita energi seluruh hidup kita !!!...
4° Selesaikan setiap masalah satu per satu. Hanya inilah cara menangani
setiap persoalan...satu demi satu..
5° Semua masalah tak perlu dibawa tidur. Hal tersebut buruk dan tak
sehat, biasakanlah tidur dengan nyaman...
6° Jangan mencampuri masalah/urusan orang lain.. Mereka memiliki cara
sendiri untuk menangani setiap masalahnya ..
7° Jangan hidup pada masa lalu. Nikmatilah masa lalu sebagai kenangan..
namun jangan tergantung padanya. Konsentrasilah hidupmu pada kejadian
saat ini..dan anda akan bahagia sekarang... bukan hanya pada masa lalu.
8° Jadilah pendengar yang baik. Hanya saat menjadi pendengar.. seseorang
mendapatkan dan belajar ide-ide baru berbeda dari orang lain...
9° Jangan biarkan rasa frustrasi merusak dan mengatur hidupmu...
Kasihanilah dirimu lebih dari segalanya..aktiflah dengan kegiatan-
kegiatan positif...
10° Hitunglah rahmatmu... Jangan pernah melupakan rahmat yang kita
terima sekecil apapun. Semakin banyak rahmat kecil yg kita kumpulkan
akan semakin berarti bagi hidup kita...
Posted by $e$e at 19:35 0 comments
Cinta di senja pernikahan
Sepertinya cerita ini sangat menyentuh buat kita-kita semua , jadi
tolong kalau sudah mengerti jangan buang waktu untuk menyatakan CINTA
KITA pada orang yang kita PATUT CINTAI dan MEMBERIKAN PERHATIAN
kEPADA MEREKA, tentunya .
Cinta di senja pernikahan
"Setelah 21 tahun menikah, saya tiba-tiba menemukan cara baru dalam
menyalakan api cinta kami. Api yang muncul tak terduga, dari orang-
orang yang begitu berharga, tapi jarang saya sadari kehadirannya,
karena terlalu terbiasa."
Beberapa waktu lalu istri saya mengusulkan agar saya berkencan dengan
seorang perempuan lain, besok malam.
"Kamu akan mencintainya, " kata istri.
"Apa-apaan sih," protes saya.
"Mengapa kamu tidak ikut?"
"Itu acara kamu berdua dengan dia," jawab istri.
Perempuan yang dimaksudnya adalah ibu saya yang telah menjanda selama
19 tahun belakangan ini. Saya jarang menemuinya karena kesibukan
kerja dan mengurus tiga anak kami. Malam itu saya telepon ibu,
mengajaknya makan malam dan nonton film. Berdua saja.
"Ada apa dengan istrimu?" kata ibu dari ujung telepon.
Ibu saya adalah tipe yang selalu curiga kalaumenerima telepon di
tengah malam atau undangan yang datangnya tiba-tiba. Bagi dia, itu
pasti akan membawa berita buruk. "Saya pikir, pasti akan menyenangkan
kalau kita sekali-sekali ke luar berdua saja," jawab saya. "Ibu mau
sekali," jawabnya setelah terdiam beberapa lama. Aha, dia masih
curiga.
Besok malam, sepulang kantor saya ke rumah ibu. Dia terlihat agak
senewen tapi berdandan resmi sekali. Ibu jelas telah menata rambutnya
di salon, dan dia memakai gaunnya yang terbaik. Gaun yang dipakai
pada pesta ulang tahun perkawinan yang terakhir ketika ayah masih
hidup.
Ibu menyambut saya dengan senyum lebar. "Saya bilang ke kawan-kawan
tentang rencana kita ini. Mereka semua kaget dan merasa ikut senang
seperti ibu sekarang," kata ibu seraya masuk mobil. "Mereka bilang
besok pagi ingin tahu ceritanya."
Kami pergi ke restoran yang agak mahal. Suasananya elegan,
menyenangkan. Ibu menggandeng lengan saya ketika memasuki ruangan,
persis seperti first lady. Jalannya anggun.
Saya harus membacakan daftar menu karena ibu tak bisa lagi membacanya
walau dengan kacamata tebal. Ketika sedang membaca daftar itu, saya
berhenti sejenak menengok ke ibu.
Dia sedang memandangi saya dengan senyum kasih..
"Dulu, ibu yang membacakan kamu daftar menu ketika kau masih kecil,"
katanya. "Sekarang ibu santai saja. Giliran saya yang melayani ibu,"
jawab saya. Sambil makan, kami membincangkan banyak hal sehari-hari.
Tidak ada topik yang istimewa tapi obrolan mengalir saja sampai-
sampai kami terlambat untuk menonton film.
Mengantarnya pulang, di muka pintu ibu berkata, "Ibu mau pergi lagi
dengan kamu, tapi lain kali ibu yang bayar." Saya setuju.
"Bagaimana kencanmu?" tanya istri saya di rumah.
"Sangat menyenangkan. Lebih dari yang saya duga. Tadinya tidak tahu
mau ngomongin apa."
Beberapa hari kemudian, ibu meninggal karena serangan jantung. Begitu
tiba-tiba kejadiannya, saya tidak sempat berbuat apa-apa untuk
menolongnya.
Satu minggu berlalu, sepucuk surat tiba dari restoran tempat ibu dan
saya makan malam. Surat itu dilampiri kopi tanda lunas.
Ada selembar kertas diselipkan di situ, bertuliskan:
"Ibu sudah bayar makan malam kita karena rasanya tak mungkin kita
makan bersama lagi. Walaupun begitu, ibu sudah bayarkan untuk dua
orang, barangkali untuk kau dan istrimu. Anakku, besar sekali arti
undanganmu malam itu."
Pada detik itulah saya mengerti apa pentingnya arti bahwa kita
mengatakan kepada orang-orang yang kita sayangi mengenai perasaan
kita itu..
Mengatakan pada orang yang kita sayangi bahwa kita sungguh
mencintainya, selagi kita sempat. Karena itu, katakanlah cinta,
jangan pernah menunggu nanti..
Siapa tahu, ketika cinta itu kita tahan, saat akan mengucapkan, sudah
terlambat.. seseorang yang istimewa itu sudah tidak ada lagi
Posted by $e$e at 19:35 0 comments
Burung pak Kepala Desa
Seorang Kepala Desa memiliki hobi memelihara burung.
Pada suatu pagi, burung kesayangannya hilang. Wah, marah sekali dia.
Pak KaDes membawa masalah itu dalam pertemuan mingguan di desanya.
KaDes : " Siapa di sini yang punya burung ? "
Segera seluruh laki-laki yang hadir angkat tangan.
Kaget, pak KaDes mengoreksi :
" Bukan, maksud saya adalah siapa yang pernah lihat burung ? "
Seluruh perempuan yang hadir angkat tangan.
Dengan muka merah padam pak KaDes menyambung,
" Maaf, bukan itu maksud saya. Maksud saya, siapa di antara kalian yang pernah lihat burung yang bukan milik sendiri ? "
Separuh perempuan yang hadir angkat tangan.
Muka pak KaDes makin merah. Gugup.
" Maaf sekali lagi, bukan ke arah itu pertanyaan saya. Maksud saya, siapa yang pernah lihat burung saya ? "
Sontak, isteri pak KaDes angkat tangan, disusul lima perempuan lain dengan malu-malu.
Muka bu KaDes merah padam . . . . .
Muka pak KaDes merah legam . . . . .
Semua yang hadir tegang . . . . . .
Pak KaDes melarikan diri . . . . .
__._,_.___
Posted by $e$e at 19:34 0 comments
when iam old
KETIKA AKU SUDAH TUA
Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula,
Mengertilah,bersabarlah sedikit terhadap aku.
Ketika pakaianku terciprat sup,
Ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu,
Ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu
Ketika aku berulang-ulang berkata-kata,
Tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar
Bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.
Ketika kau kecil aku selalu harus mengulang cerita,
Yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.
Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku,
Jangan marah padaku,
Ingatkah sewaktu kecil Aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?
Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tehnologi dan hal-hal baru, Jangan mengejekku.
Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap "mengapa" darimu.
Ketika aku tak dapat berjalan,
Ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku.
Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.
Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita,
Berilah aku waktu untuk mengingat.
Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting,
Asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.
Ketika kau memandang aku yang mulai menua,
Janganlah berduka mengertilah aku, dukung aku,
Seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan.
Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini,
Sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.
Beri aku cintamu dan kesabaran,
Aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur,
Dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.
Albert Tarigan
Bukopin Purwokerto
Telp.0281 624 038
From: losta_masta@yahoogroups.com [mailto:losta_masta@yahoogroups.com] On Behalf Of tinu
Sent: Tuesday, June 17, 2008 5:55 PM
To: losta_masta@yahoogroups.com
Subject: [LoSTA MASTA] PERMINTAAN ANAK KEPADA ORANG TUA
PERMINTAAN ANAK KEPADA ORANG TUA
Seandainya anak-anak kecil bisa berbicara dan memiliki keberanian untuk
mengajukan permohonan mereka kepada orang tuanya, apa yang akan mereka
katakan? Bukankah seringkali ada orang tua yang merasa berhak melakukan apa
saja terhadap anak-anak tanpa memahami perasaan mereka?
Didalam hati kecilnya, anak-anak itu mungkin ingin mengatakan :
Tanganku begitu kecil. Janganlah mengharapkan hasil yang sempurna
ketika aku merapihkan tempat tidur,
menggambar sesuatu atau melemparkan bola.
Kakiku masih pendek, perlambatlah jalanmu agar aku bisa berjalan bersamamu
Mataku belum bisa memandang dunia ini sebagaimana engkau memandangnya,
biarkanlah aku mengamati dan mempelajari banyak hal
secara perlahan-lahan.
Kesibukan di rumah akan selalu ada,
beri aku sedikit saja waktu untuk menjelaskan tentang banyak hal
yang belum kupahami dan bermainlah bersamaku.
Perasaanku lembut, pekalah terhadap apa yang aku butuhkan
dan jangan memarahiku sepanjang hari.
Perlakukanlah aku sebagaimana engkau ingin diperlakukan.
Aku adalah pemberian khusus dari Yang Maha Penyayang
Sayangilah aku, sebagaimana Yang Maha Penyayang perintahkan
untuk engkau lakukan.
Beritahu aku aturan-aturan di dalam menjalani
kehidupan dan disiplinkan aku dengan kasih
Aku butuh dorongan dan bukan sekedar pujian untuk bertumbuh
Ketika engkau mengkritikku, kritiklah perbuatanku
dan jangan benci padaku
Dengan begitu, aku bisa mengubah kebiasaan buruk di dalam diriku
Beriku kebebasan untuk membuat keputusan tentang diriku sendiri
Jangan marah ketika aku berbuat salah,
sehingga aku dapat belajar dari kesalahanku.
Dengan demikian suatu hari nanti aku dapat membuat keputusan yang benar.
Tolong jangan buat aku merasa bersalah
dan tidak yakin terhadap diriku
dengan cara membandingkanku dengan kakak atau adikku
Masing-masing kami memiliki kemampuan dan kapasitas yang berbeda-beda
Jangan terlalu kuatir meninggalkan aku,
sekali-sekali ambillah waktu untuk bersantai dan menenangkan diri
Kadang anak-anak perlu waktu tanpa orang tua
sebagaimana orang tua juga perlu waktu untuk menenangkan diri
berdua tanpa anak-anak
Di samping itu, itu merupakan cara yang bagus
untuk memperlihatkan kepada kami anak-anak bahwa
pernikahan kalian begitu spesial dan harmonis
Ajak dan doronglah kami untuk beribadah
Berilah teladan yang baik,
karena aku ingin belajar banyak tentang Tuhan.
Anak-anak tanpa pahlawan, sedikit sekali yang akan tumbuh menjadi
pribadi-pribadi dewasa yang bangga dan membanggakan.
Mereka membutuhkan seorang dewasa yang bisa mereka kagumi. Mereka
membutuhkan seorang kuat, yang saat bersamanya - mereka merasa terlindungi.
Mereka, anak-anak kita itu - lebih membutuhkan seorang pahlawan untuk mereka
teladani, dan bukan seorang kritikus yang semena-mena merendahkan diri-diri
kecil yang tidak terlindungi itu - hanya karena yang lebih tua itu - mampu
mendatangkan penyiksaan yang tak terlawankan.
Jadikanlah diri Anda orangtua yang mencontohkan kegembiraan dalam
memenangkan kualitas kehidupan yang baik, agar anak-anak kita juga
bersemangat untuk menjadikan diri mereka tumbuh dengan tubuh yang sehat,
cara pandang yang jernih, dan pemikiran yang cemerlang.
Posted by $e$e at 19:34 0 comments
